Sabtu, 01 November 2008

Pemuda Yang Berkarya Bagi Gereja Dan Bangsa

80 tahun sudah sejak Sumpah Pemuda di proklamirkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Namun apa yang sudah dilakukan oleh para pemuda Indonesia sampai pada saat ini khususnya para pemuda Gereja.

Pemuda selalu identik dengan kekuatan, semangat, dan keinginan yang menggebu-gebu untuk mencari makna hidup. Itu sebabnya, biasanya orang-orang mudalah yang menjadi pelopor penggerak berbagai perubahan. Sejak masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa ketika mahasiswa-mahasiswa berjuang menentang kediktatoran pemerintah orde baru, bahkan hingga saat ini, pemuda selalu berada di garis depan perjuangan menentang ketidakadilan dan ketidakberesan yang terjadi baik dalam masyarakat ataupun negara. Pemuda yang memiliki idealisme tinggi dan hati yang murni dapat menjadi wakil yang peka dalam meresponi tantangan yang terjadi pada zamannya. Namun pada saat yang sama jika pemuda-pemuda kita terjerumus ke dalam hal-hal yang merusak, maka celakalah bangsa kita, karena mereka tidak lagi dapat menjadi barometer bangsa.

Maraknya kemajuan teknologi di berbagai bidang dapat menjadi peluang, tapi sekaligus menjadi ancaman bagi para pemuda kita. Jika mereka tidak dibekali dengan pengetahuan kebenaran, maka mereka akan mudah sekali menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan. Nah, bagaimana kemajuan teknologi ini bisa menjadi peluang untuk menggarap hati para pemuda bagi Kristus? Dunia internet sebenarnya memiliki peluang yang luas, untuk menjadi sarana pembentukan karakter kawula muda, tak terkecuali di Indonesia. Tetapi sayang, di bidang pelayanan Kristen khusus untuk kaum muda, kemajuan teknologi informasi ini relatif belum banyak dimanfaatkan.

Di tengah komunitas Kristiani, gereja sesungguhnya merupakan lembaga yang juga dapat berperan dengan lebih aktif dan lebih besar. Sejauh ini peran gereja di dalam pembinaan kaum muda berjalan biasa-biasa saja dan terkesan adem ayem. Komisi Pemuda yang ada di setiap gereja hanya menjalankan kegiatan rutinitas dari tahun ke tahun tanpa perubahan yang nyata dan berarti, dan sering tidak ada relevansinya dengan kenyataan yang dihadapi para pemuda. Gereja dengan para pemimpinnya masih amat sibuk dengan berbagai urusan gereja yang lain, dan tidak habis-habisnya, serta kurang mempedulikan pembinaan kaum muda. Gereja dan para pemimpinnya seolah-olah yakin bahwa Tuhan akan mengirim hamba-Nya pada waktunya nanti, dan kerena itu,walaupun tidak melakukan usaha-usaha pembinaan kaum muda secara sengaja dan nyata, gereja tidak perlu risau.

Saya tidak sependapat dengan pandangan di atas. Pembinaan bagi generasi muda bukanlah hal yang boleh dilakukan secara sambilan dan setengah hati. Di tengah persaingan yang makin ketat dan berat, di tengah berbagai tawaran dan godaan dunia yang begitu gencar dan menarik, saya yakin bahwa komunitas Kristiani tetap melakukan upaya-upaya pembinaan kaum muda secara sengaja dan tepat guna, agar mereka dapat dipersiapkan sebagai kader bangsa.
.
Pembinaan generasi muda adalah hal yang tidak dapat ditunda lebih lama, sebab selama ini banyak terabaikan. Pembinaan ini tentu bukan hanya dengan kurikulum baku yang sejauh ini lebih banyak mengisi ‘otak’ ketimbang ‘hati’. Pembinaan generasi muda diharapkan bersifat utuh dan padu, sehingga dapat melengkapi mereka untuk bersikap matang dan dewasa, serta dapat mengambil keputusan-keputusan secara etis dan bertanggung jawab agar mereka dapat menjadi pemimpin masa depan.

Yesus itu adalah orang muda. Ia pun mati dalam usia muda, 33 tahun. Hidup, karya, wafat, dan kebangkitanNya adalah hidup, karya, wafat, dan kebangkitan-Nya sebagai orang muda. Panggilan dan perutusan diterimanya ketika Dia masih muda. Saat ia mengajar, saat ia bekerja, berkarya, mengumpulkan murid-murid, saat bersedih, saat bergembira, adalah warna warni di masa mudanya.

Sebagai orang muda, Yesus juga bukan orang yang selalu tampil sebagai anak yang saleh dan alim. Sering, ia membuat banyak kerepotan dengan orang-orang tua. Tak jarang, ia beradu argumen dengan para tua-tua dan imam-imam mengenai tafsir Kitab Suci. Yesus ditampilkan sebagai anak muda yang kadang memberontak dan tidak taat pada aturan. Meski sikap berontaknya dilakukan demi nilai yang lebih tinggi, yakni kemanusiaan. Ambil contoh, Yesus mengizinkan para murid memetik bulir gandum pada hari Sabat. Padahal, di hari Sabat orang dilarang untuk bekerja.

Banyak pemikiran kritis dan radikal Yesus muncul. Ia mengkritik penguasa yang lalim dan tidak adil. Ia mengkritik habis para ahli taurat dan orang Farisi yang sok jagoan menguasai Kitab Suci dan hidup dalam kepura-puraan. Ia pun mengkritisi berbagai aturan sosial yang hanya menguntungkan penguasa ketimbang rakyat banyak. Misalnya soal pajak dan aturan hari Sabat. Suara Yesus sering terdengar vokal dan sering membuat sakit hati para tua-tua dan imam-imam. Bahkan, kebandelan Yesus ini sudah ia tampak semenjak kanak-kanak. Yusuf dan Maria dibuatnya kelimpungan mencari ke sana kemari dan menemukan Yesus sedang asyik berdiskusi di Bait Allah.

Sebagai orang muda, Yesus senang bersahabat dengan siapa saja. Dengan anak-anak, para perempuan, para orangtua, pejabat pemerintah, para penjahat, gelandangan, dan sebagainya. Masa muda yang kreatif, optimis, dan bersemangat.

Tapi, sikap kritis, solidaritas Yesus dengan rakyat jelata, membuat sebagian orang tua dan para imam-imam tidak suka padanya. Beberapa kali, Yesus mau dijebak dan mau disingkirkan Tapi, saking cerdasnya, Yesus selalu menang dan menuai rasa iri dan sakit hati mereka. Tapi, akhirnya Yesus bisa diseret juga ke ruang penjagalan. Yesus akhirnya mati sebagai korban konspirasi para tua-tua, imam-imam kepala, dan politik saat itu. Yesus pun akhirnya mati muda. Tapi, iman kita menyakini bahwa derita, kematian, dan kebangkitan Yesus inilah keselamatan dari Allah. Boleh donk, dikata bahwa Karya Penyelamatan Allah di dunia ini diperantarai oleh orang muda. Orang muda bernama Yesus. Boleh juga dikatakan bahwa ternyata Tuhan kita adalah orang muda.

Para Pemuda Gereja memiliki tantangan bersama menghadapi berbagai persoalan gereja dan bangsa. Mari kita selesaikan dengan cara-cara sederhana, tapi bermanfaat luar biasa. Oleh karena itu, setia pada perkara kecil, maka akan dipercayakan pada kita perkara yang besar. Laksanakanlah tugas kita masing dalam dunia kerja kita, lingkungan, keluarga dan gereja." Mari buktikan bahwa kita dapat Berkarya Bagi Gereja dan Bangsa.

Tidak ada komentar:

Share it